Mengenal Sejarah Tahun Baru Imlek dan Berbagai Macam Tradisinya

Source: Pixabay

Yuk Mengenal Tahun Baru Imlek dan Bagaimana sejarahnya?

Tahun Baru Imlek adalah tahun dimana masyarakat Tionghoa merayakan hari terbesar mereka yaitu pada malam pergantian tahun.

Terdapat berbagai macam tradisi saat perayaan Tahun Baru Imlek seperti penyulutan kembang api, mengunjungi sanak saudara, menghias rumah, menyalakan lampion, membagikan angpau dan masih banyak lagi.

Masyarakat Tionghoa menganggap bahwa Tahun Baru Imlek merupakan hari libur besar dimana mereka harus merayakan hari besar itu di rumah masing-masing atau bahkan merayakannya di luar rumah. Hal itu telah menjadi adat dan budaya tradisional bagi warga Tionghoa. Namun ada beberapa negara lain seperti Nepal, Korea, Tiongkok, Taiwan, Singapura, Thailand, Filiphina, Makau, Jepang, Hongkong, Malaysia dan Indonesia juga ikut merayakan Tahun Baru Imlek.

Lantas, bagaimana sejarah Tahun Baru Imlek?

Dikutip dari Wikipedia, bulan kabisat adalah titik utama bulan yang dipakai masyarakat Tionghoa untuk memastikan kalender yang searah dengan mengelilingi matahari. Namun, pada saat itu kaisar pertama China bernama Qin Shu Huang mengubah dan menetapkan bahwa tahun Tionghoa dimulai pada bulan 1 pada masa 221 SM. Pada mulanya awal tahun jatuh pada bulan 1 pada masa Dinasti Xia, sedangkan bulan 12 pada masa Dinasti Shang, dan yang terakhir di bulan 11 pada masa Dinasti Zhou tepatnya di China. Tujuan dari pada penetapan bulan tersebut adalah masyarakat Tionghoa umumnya merupakan masyarakat yang agraris.

Banyak dari masyarakat tionghoa lebih tepatnya penganut Taoisme mereka lebih suka menggunakan penanggalan Huang Di (kaisar kuning) dalam sejarah tiongkok kaisar kuning dianggap sebagai bapak bangsa oleh warga Tionghoa. Disisi lain, para Taois juga menggunakan penanggalan Huang Di karena mereka mempercayai Taoisme kaisar Kuning merupakan pembuka ajaran agama bagi Tao.

Sejarah adanya Tahun Baru Imlek di Indonesia

Pada tahun 1968-1999, tahun baru imlek tidak diperbolehkan di Indonesia. Ketetapan nomer 14 tahun 1967, Presiden Soeharto melarang segala hal apapun yang berhubungan dengan Tionghoa yaitu perayaan Tahun Baru Imlek bahkan melarang untuk merayakannya didepan umum.

Namun pada tahun 2000, masyarakat di Indonesia yang mempunyai keturunan Tionghoa memiliki kebebasan untuk merayakan Tahun Baru Imlek pada saat Abdurrahman Wahid menjabat sebagai presiden Nomer 14 tahun 1967. Presiden Abdurrahman Wahid meninjau ulang kembali dengan membuat keputusan Nomor 19 tahun 2001 tepat pada tanggal 9 April tahun 2001, menetapkan Imlek sebagai hari libur bagi mereka yang merayakannya. Akhirnya pada tahun 2002, Imlek telah resmi ditetapkan sebagi salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri tahun 2003.

Dikutip dari wikipedia, Presiden Megawati Soekarnoputri Membuat keputusan Nomor 19 tahun 2002 bahwa Hari Tahun Baru Imlek jatuh pada tanggal 9 April. Hal ini dikerenakan adanya pertimbangan dalam penyelenggaran adat istiadat dimana hakikatnya merupakan hak asasi manusia. Disamping itu, Tahun Baru Imlek merupakan tradisi warga Tionghoa yang dilakukan secara turun-temurun di Indonesia. Hal ini diperkuat dengan Pasal 4 ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945, disamping itu Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 mengenai pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 bahwa kepercayaan, pembatasan Agama, serta Adat Istiadat Cina, maka dari itu Indonesia menetapkan Hari Tahun Baru Imlek sebagai Hari Nasional.

 Perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia

Ilustrasi gambar / Pixabay

Penduduk Indonesia sebagian adalah warga Tionghoa seperti Jakarta, Medan, Manggar, Tobolali, PangkalPinang, Tangerang, Pekanbaru, Batam, Surabaya, Bandung dan masih banyak lagi. Pada saat perayaan Tahun Baru Imlek mereka mempunyai perayaan tersendiri. Setiap tahun mereka melakukan tradisi menyalakan kembang api. Bahkan di pusat perbelanjaan banyak dihiasi lampu-lampu cantik. Tidak hanya itu saja, ada banyak kata-kata Cina dengan simbol naga atau singa berwarna merah juga emas. Sudah menjadi hal biasa saat kita menjumpai perayaan Tahun Baru Imlek tepat didepan rumah, Mall, ruko atau samping jalan terdapat tarian singa. Ada juga dupa besar yang terbuat dari kayu gaharu dihiasi barongsai juga dibakar oleh warga Tionghoa Buddha, Taoisme dan Konghucu. Biasanya klenteng buka selama 24 jam dengan membagikan angpau, beras, buah-buahan dan juga gula. Mereka membagikannya untuk orang-orang yang tidak mampu.

Perayaan Tahun Baru Imlek sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Tionghoa. Dengan adanya penetapan bahwasanya Tahun Baru Imlek merupakan hari libur nasional. Kita sebagai masyarakat Indonesia harus bisa menghargai satu sama lain. Banyaknya suku, budaya dan adat istiadat membuat kita sadar bahwa pentingnya bersatu. Meski berdeda suku, agama bahkan bangsa sekalipun kita harus tetap saling menghargai satu sama lain. Jangan saling berseteru demi kepentingan pribadi.

Sekian penjelasan singkat yang bisa etalk1 berikan. Semoga bermanfaat dan terima kasih.